Kendari – Universitas Mandala Waluya, khususnya Unit Cendekia Kampus yang berlokasi di Kendari, menyelenggarakan acara Festival Olahraga dan Seni Budaya tingkat universitas dengan skala yang belum pernah ada sebelumnya. Acara yang berlangsung selama satu minggu penuh ini melibatkan lebih dari 3.500 mahasiswa dari berbagai program studi, fakultas, dan tingkat semester. Festival yang dimulai sejak 24 Maret 2026 ini merupakan wujud komitmen universitas dalam mengembangkan ekosistem kehidupan kampus yang holistik dan inklusif.
Ketua Panitia Festival, Muhammad Rizki Pratama, mahasiswa semester enam Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai sarana apresiasi terhadap bakat-bakat mahasiswa di bidang olahraga dan seni budaya. “Kami ingin menunjukkan kepada publik bahwa mahasiswa Universitas Mandala Waluya tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki potensi luar biasa dalam pengembangan diri melalui kegiatan ekstrakurikuler,” ujar Rizki saat ditemui di kantor Biro Kemahasiswaan Unit Cendekia Kampus pada hari Sabtu, 29 Maret 2026.
Latar Belakang Penyelenggaraan Festival
Gagasan pelaksanaan festival ini muncul dari evaluasi kegiatan mahasiswa tahun akademik 2024/2025 yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kegiatan berbasis olahraga dan seni budaya. Data dari Biro Kemahasiswaan mencatat bahwa terdapat 47 organisasi kemahasiswaan yang tersebar di berbagai bidang minat, mulai dari cabang olahraga, seni pertunjukan, seni rupa, hingga kesenian tradisional. Namun, sebelumnya, kegiatan-kegiatan ini berjalan secara terpisah-pisah tanpa satu platform unifikasi yang kuat.
“Selama ini, setiap organisasi melakukan kegiatan mereka masing-masing. Kami merasa perlu ada satu momentum besar di mana semua mahasiswa dapat berkumpul, saling belajar, dan menampilkan karya atau kemampuan mereka,” jelas Dr. Bambang Sutrisno, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Mandala Waluya, dalam wawancara eksklusif di kantornya pada 28 Maret 2026.
Konsep festival ini juga didorong oleh visi universitas untuk meningkatkan engagement mahasiswa dan menciptakan sense of belonging yang lebih kuat terhadap institusi. Berdasarkan survei internal yang dilakukan Biro Kemahasiswaan kepada 800 mahasiswa, 76 persen menyatakan setuju dan sangat setuju dengan adanya platform terpadu untuk mengeksplorasi minat dan bakat di luar akademik.
Rangkaian Kegiatan dan Cabang Olahraga
Festival Olahraga dan Seni Budaya Universitas Mandala Waluya 2026 menampilkan berbagai cabang olahraga kompetitif yang mendebarkan. Dalam divisi olahraga, terdapat 12 cabang yang dilombakan, yakni futsal, bola volley putra dan putri, badminton, tenis meja, basket, sepak bola, bola voli pantai, atletik, catur, pencak silat, dan renang.
“Kategori olahraga kami susun berdasarkan populeritas dan tingkat partisipasi mahasiswa. Futsal dan bola volley selalu menjadi favorit, namun tahun ini kami juga memberikan apresiasi khusus kepada cabang-cabang alternatif seperti pencak silat dan catur yang memiliki pengikut setia,” kata Rizki Pratama.
Turnamen futsal menjadi salah satu puncak antusiasme dengan 24 tim yang berasal dari berbagai fakultas dan program studi. Pertandingan futsal berlangsung di lapangan indoor Pusat Olahraga Universitas Mandala Waluya, yang baru selesai direnovasi tahun ini. Sementara itu, kompetisi bola volley melibatkan 18 tim putra dan 16 tim putri, dengan tingkat keseimbangan gender yang cukup baik.
“Kami bangga bahwa partisipasi mahasiswa perempuan dalam cabang olahraga sudah meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa stigma gender dalam olahraga mulai berkurang di kampus kita,” ungkap Siti Nurhaliza, Koordinator Divisi Olahraga Festival, pada 27 Maret 2026.
Pelombaan Seni dan Budaya yang Meriah
Selain olahraga, festival ini juga menampilkan 16 kategori seni dan budaya yang mencerminkan kekayaan budaya lokal maupun nasional. Kategori-kategori tersebut meliputi tari tradisional, tari modern, musik tradisional, musik kontemporer, teater, puisi, seni rupa, fotografi, desain grafis, komik, cosplay, dan fashion show.
Seni budaya tradisional mendapat porsi khusus karena universitas ingin melestarikan kearifan lokal Sulawesi Tenggara. Kompetisi tari tradisional menampilkan berbagai gerakan dan kostum khas, mulai dari tari Zapin, Poco-poco, hingga tari-tarian dari etnis Buton dan Muna. Lebih dari 120 penari dari berbagai program studi terlibat dalam kategori ini saja.
“Generasi muda mahasiswa kami perlu dekat dengan akar budaya sendiri. Melalui festival ini, kami ingin menekankan bahwa apresiasi terhadap seni budaya lokal adalah bagian dari identitas diri sebagai mahasiswa Indonesia,” papar Dr. Siti Hasanah, Dekan Fakultas Seni dan Desain, dalam sambutannya di acara pembukaan festival pada 24 Maret 2026 lalu.
Kategori seni rupa dan fotografi juga menarik perhatian khusus dengan jumlah karya yang dikirimkan mencapai 340 pieces. Kurasi dilakukan oleh dosen-dosen dari Fakultas Seni dan Desain untuk memastikan standar estetika dan teknis yang memadai. Pameran berlangsung di Galeri Seni Universitas Mandala Waluya dan terbuka untuk umum, sehingga tidak hanya mahasiswa tetapi juga masyarakat luas dapat mengapresiasi karya-karya tersebut.
Dukungan Pimpinan Universitas dan Alokasi Sumber Daya
Kesuksesan festival ini tidak lepas dari dukungan penuh pimpinan universitas. Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Ir. Sutrisno, M.Sc., mengalokasikan anggaran khusus sebesar 750 juta rupiah untuk mendukung penyelenggaraan festival. Anggaran ini digunakan untuk penyediaan infrastruktur, honorarium panitia, hadiah bagi pemenang, dan akomodasi tamu undangan.
“Investasi dalam pengembangan mahasiswa adalah investasi untuk masa depan bangsa. Kami percaya bahwa melalui kegiatan ekstrakurikuler berkualitas seperti ini, mahasiswa tidak hanya mengembangkan hard skills tetapi juga soft skills yang sangat dibutuhkan di dunia kerja,” jelas Prof. Sutrisno dalam surat resmi yang dikirimkan kepada panitia festival.
Alokasi anggaran mencerminkan komitmen universitas terhadap tiga pilar pengembangan mahasiswa: pengembangan potensi akademik, pengembangan kepribadian dan karakter, serta pengembangan keterampilan praktis dan seni budaya. Dengan anggaran tersebut, panitia mampu menyediakan hadiah total senilai 180 juta rupiah untuk para juara di setiap kategori olahraga dan seni budaya.
Partisipasi dan Antusiasme Mahasiswa
Memasuki minggu terakhir festival, tingkat partisipasi dan antusiasme mahasiswa terus mengalami peningkatan. Data administratif menunjukkan bahwa pendaftaran peserta mencapai 98 persen dari target awal yang ditetapkan panitia. Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa Universitas Mandala Waluya memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya pengembangan diri di luar akademik.
Andi Wijaya, mahasiswa semester tiga dari Program Studi Teknik Informatika, adalah salah satu peserta yang antusias mengikuti turnamen futsal. “Saya tidak hanya belajar mata kuliah di kelas, tetapi juga belajar teamwork dan kepemimpinan melalui olahraga. Festival ini memberi kesempatan saya untuk berkompetisi dengan mahasiswa dari program studi lain dan membangun jaringan yang lebih luas,” tutur Andi saat ditemui setelah pertandingan babak semifinal pada 29 Maret 2026.
Sementara itu, Putri Handayani, mahasiswa semester lima dari Program Studi Seni Rupa, berbagi pengalaman menarik dari kategori seni yang dia ikuti. “Saya ikut kompetisi seni rupa dengan karya lukisan berjudul ‘Kenangan Kendari’. Proses persiapan membuat saya lebih introspektif tentang identitas lokal dan cara saya mengekspresikannya melalui medium visual. Selain itu, melihat karya-karya teman-teman dari program studi lain membuka perspektif baru tentang ekspresi artistik yang berbeda-beda,” kata Putri dengan semangat.
Dampak Positif bagi Ekosistem Kampus
Penyelenggaraan festival ini sudah mulai menunjukkan dampak positif yang terukur. Pertama, dari sisi partisipasi, terjadi peningkatan engagement mahasiswa yang signifikan. Data Biro Kemahasiswaan menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa yang terdaftar aktif di organisasi kemahasiswaan meningkat 34 persen sejak festival ini diumumkan tiga bulan lalu.
Kedua, festival ini menciptakan sense of community yang lebih kuat. Melalui berbagai acara penunjang seperti MC battle, diskusi panel tentang pengembangan seni dan olahraga, serta acara hiburan malam, mahasiswa dari berbagai latar belakang memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan saling mengenal.
Ketiga, festival ini juga menjadi ajang promosi universitas di tingkat lokal. Berbagai media massa lokal meliput acara ini, dan universitas mendapat exposure yang positif. Pihak rektorat bahkan merencanakan untuk menjadikan festival ini sebagai acara tahunan yang lebih besar lagi di masa mendatang.
“Respons dari masyarakat Kendari juga luar biasa. Banyak orang tua mahasiswa, alumni, dan warga masyarakat umum yang datang menonton pertandingan dan pameran seni kami. Ini membuktikan bahwa kampus adalah bagian integral dari kehidupan komunitas lokal,” ungkap Dr. Bambang Sutrisno dalam sesi evaluasi awal festival pada 30 Maret 2026.
Tantangan dan Pembelajaran
Meski secara keseluruhan festival berjalan dengan lancar, panitia juga menghadapi beberapa tantangan yang menjadi pembelajaran berharga. Salah satunya adalah manajemen logistik untuk jumlah peserta yang melebihi ekspektasi awal. “Kami perlu meningkatkan sistem pendaftaran online dan pengelolaan flow peserta agar lebih efisien di festival tahun depan,” kata Rizki Pratama.
Tantangan lain adalah penyeimbangan alokasi waktu dan ruang untuk semua kategori lomba. Dengan 28 kategori yang diselenggarakan secara bersamaan dalam satu minggu, diperlukan koordinasi yang sangat ketat dan mekanisme scheduling yang matang.
Namun, panitia melihat tantangan-tantangan ini sebagai peluang pembelajaran untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan di masa depan. Feedback dari peserta dan penonton sudah dikumpulkan dan akan dianalisis untuk perbaikan berkelanjutan.
Penutup dan Visi ke Depan
Dengan berakhirnya Festival Olahraga dan Seni Budaya Universitas Mandala Waluya Unit Cendekia Kampus pada 31 Maret 2026 ini, universitas telah berhasil menciptakan satu momentum bersejarah dalam kehidupan kampus. Festival yang melibatkan ribuan mahasiswa dari berbagai latar belakang akademik dan minat ini membuktikan bahwa Universitas Mandala Waluya tidak hanya fokus pada excellence akademik, tetapi juga pada pengembangan holistik mahasiswa.
Prof. Dr. Ir. Sutrisno, dalam penutupan festival, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh mahasiswa, panitia, dan pihak-pihak yang terlibat. “Festival ini adalah cerminan dari kehidupan kampus yang dinamis dan inklusif. Saya yakin bahwa mahasiswa Universitas Mandala Waluya, yang telah merasakan pengalaman berharga ini, akan tumbuh menjadi individu-individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga sehat secara jasmani dan rohani. Kami sudah merencanakan untuk menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan yang semakin berkualitas dan melibatkan lebih banyak stakeholder eksternal,” ujar Prof. Sutrisno.
Pimpinan universitas juga mengumumkan bahwa tahun depan, festival akan melibatkan universitas-universitas lain di Sulawesi Tenggara sebagai ajang kompetisi antaruniversitas. Visi ini menunjukkan bahwa Universitas Mandala Waluya tidak hanya ingin memajukan mahasiswanya sendiri, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ekosistem olahraga dan seni budaya yang lebih luas di tingkat regional.
Dengan kesuksesan festival kali ini, Universitas Mandala Waluya Unit Cendekia Kampus Kendari telah membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang mengutamakan pengembangan integral mahasiswa. Festival ini akan dikenang sebagai tonggak penting dalam sejarah kehidupan kampus, dan diharapkan menjadi inspirasi bagi institusi pendidikan lain untuk menyelenggarakan acara serupa yang memberikan manfaat jangka panjang bagi pertumbuhan dan pengembangan diri mahasiswa.
—
*Artikel ini ditulis berdasarkan observasi lapangan, wawancara dengan berbagai narasumber, dan data resmi dari Universitas Mandala Waluya Unit Cendekia Kampus Kendari. Penulis berterima kasih kepada Biro Kemahasiswaan dan seluruh panit